DANAU TENDETUNG
Danau
Tendetung adal ah satu-satunya danau yang terletak di pulau Peling Banggai
Kepulauan, tepatnya di wilayah bagian utara kecamatan Totikum Selatan. Elevasi
danau ini Berada pada ketinggian 200 meter dari permukaan laut dengan posisi geografis
1º25’ Lintang Selatan dan 123º28’ bujur
timur. Kondisi tersebut praktis danau Tendetung dan sekitarnya memiliki cuaca
yang sejuk meski pun curah hujan tidak merata setiap tahunnya. Tendetung memanjang dari arah utara ke selatan dengan
panjang 2,87 Km disertai terletak di
bagian utara 5,84 Km ibukota kecamatan.
Danau
tendetung merupakan danau yang terbilang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan
tersebut bukan hanya karena ialah satu-satunya objek wisata danau yang dimiliki
kabupaten Banggai Kepulauan, melainkan terdapat beberapa fenomena alam yang
ikut menjadi daya tarik danau tersebut. Salah satunya adalah fenomena pasang
surut air di danau ini.
Peristiwa
atau fenomena pasang surut yang terjadi di danau Tendetung menurut masyarakat
setempat, rata-rata terjadi selama enam bulan pada masing-masing musimnya.
Meskipun terkadang biasanya terjadi keterlambatan terjadinya pergantian musim
dari pasang ke surut atau sebaliknya. Namun bagi masyarakat setempat yang
bertani dan mencari ikan di kawasan danau menyatakan bahwa musim pasang
rata-rata terjadi selama enam bulan yang bermula pada bulan akhir bulan
juni-juli sampai akhir bulan Oktober - November. Setelah itu, air danau akan
menyusut secara perlahan-lahan hingga dasar danau yang datar akan mengering dan
ditumbuhi rerumputan hijau sehingga terlihat menyerupai lapangan golf.
Selain
itu, pada saat surut maksimal di dasar danau akan terlihat lekukan-lekukan anak
sungai yang menjadi media sirkulator air karena lekukan-lekukan anak sungai
tersebut akan terus dialiri air hingga musim pasang berganti memenuhi cekungan
danau. Oleh karena itu, danau ini tetap bisa dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat sebagai tempat untuk menangkap beberapa jenis ikan yang hidup di danau
tersebut. Dua jenis ikan yang hidup dan sering mejadi hasil tangkapan nelayan
di danau tersebut diantaranya, ikan mujair dan ikan gabus. Dan bukan hanya itu,
masyarakat setempat juga memanfaatkan kondisi tersebut untuk melepaskan hewan
ternak mereka karena rerumputan hijau yang tumbuh di dasar danau tersebut bisa
menjadi pakan alternative bagi hewan ternak mereka. Sebaliknya pada musim
pasang berlangsung, masyarakat setempat memanfaatkan danau tersebut untuk menangkap
ikan dan mengairi beberapa hektar sawah masyarakat setempat yang ada di kawasan
danau.
Sejauh
ini belum ada satu penelitian pun yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana
proses terbentuknya danau tendetung serta apa penyebab terjadinya peristiwa
pasang surut. Sehingga sampai saat ini, keherenan masyarakat setempat akan
fenomena tersebut belum terjawab. Bahkan tidak sedikit yang mengira atau bahwa
fenomena alam tersebut hanya terjadi di danau Tendetung walaupun sebenarnya di
Propinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Agam, Kecamatan Kamang Magek
Nagari Kamang Mudiak juga terdapat danau yang hampir memiliki kesamaan karakter
dengan danau Tendetung, yakni Danau Terusan
Kamang atau bagi masyarakat local menjulukinya dengan Danau “Dua Wajah” karena peristiwa pasang
surutnya.
danau Terusan Kamang
dimanfaatkan melepas hewan ternak masyarakat
Mengenai
fenomena alam pasang surut di danau Terusan Kamang salah seorang ahli geologi
Indonesia Andang Bachtiar yang meneliti danau tersebut pernah berkesimpulan
bahwa “banyak danau karst di daerah lain, tapi hanya danau Terusan Kamang yang
punya hubungan langsung denga sungai bawah tanah sehingga muncul fenomena
unik”. Selain itu, Prof. Handang, yang pernah melakukan penelitian yang sama,
menemukan bahwa danau Terusan Kamang terhadap di zona patahan Sumatera bagian
Timur, sehingga itu menjadi alasan air datang dan mengering.
Mengacu
pada pendapat para ahli di atas, melalui catatan kecil ini, penulis merasa
sedikit perlu menambahkan bahwa Danau Terusan Kamang bukanlah satu-satunya
danau yang mengalami fenomena pasang surut, tapi Danau Tendetung juga terdapat
peristiwa yang sama. Dalam hal ini kiranya sangat bisa dimaklumi, mengingat
minimnya informasi geologi dan hidrologi dari hasil penelitian terutama
mengenai fenomena-fenomena alam yang terdapat di daerah yang agak sulit
terakses jaringan teknologi dan komunikasi.
Terlepas
dari sulitnya akses informasi yang diperoleh peneliti mengenai danau tendetung sebagai
danau yang mengalami peristiwa pasang surut, setidaknya pendapat ahli tersebut
dapat dijadikan acuan untuk memberikan gambaran singkat mengenai penyebab terjadinya
peristiwa pasang surut. “Dalam hal ini
penulis sedikit pun tidak berani menyimpulkan bahwa danau Tendetung merupakan
salah satu danau Karst Karena penulis sendiri tidak berkompeten dalam hal itu”.
namun demikian melalui catatan ini, penulis ingin mengajak kepada seluruh
pembaca terutama bagi teman-teman yang memiliki tingkat keingintahuan yang
tinggi terhadap danau tersebut untuk melakukan semacam studinet mengenai
karakter karst yang menjadi ciri khas danau Tendetung.
Mari
kita coba!
Karst
menurut (White, 1988; Ford dan Williams, 1989) merupakan bentang lahan dengan
ciri khas aliran permukaan yang dan sering ditemukannya sungai bawah tanah.
Umumnya diketahui bahwa lahan karst terbentuk karena adanya pelarutan batu
gamping. Menurut para ahli, Danau karst adalah salah satu jenis danau yang
terbentuk secara alami karena pelapukan atau pelarutan batuan kapur sehingga
danau karst paling banyak dijumpai pada daerah pegunungan atau perbukitan.
Proses pembentukan daerah karst dinamakan karstifikasi.
Pada
umumnya karst dicirikan oleh tiga hal:
1. Terdapatnya cekungan tertutup atau
lembah kering dalam berbagai ukuran dan bentuk
2. Langkanya, atau tidak terdapatnya
drainase/sungai permukaan
3. Terdapatnya goa dari sistem drainase
bawah tanah
Dari
ketiga ciri tersebut, semua dapat dilihat dan disaksikan secara langsung di
danau tersebut. seperti telah dikatakan di awal tulisan ini, bahwa danau
Tendetung adalah salah satu danau yang dikelilingi oleh kawasan perbukitan.
Pada bulan tertentu, danau tersebut mengalami kekeringan selama berbulan-bulan.
Tidak ada satu pun sungai di permukaan tanah yang dialiri air danau pada saat
pasang untuk keluar dari danau tersebut. tapi ketika musim surut tiba danau
tersebut akan mengering hingga dasar danah terhampar begitu luas. Di danau
tersebut terdapat beberapa gua-gua lorong bawah tanah yang dialiri air danau
keluar dari danau tersebut.
Berdasarkan
sistem hidrologi karst, Reisi dan Karami (1997) sistem aliran karst dapat
dibedakan menjadi tiga jenis yaitu, sistem lorong dengan ukuran besar
(Conduit), sistem lorong dengan ukuran kecil (diffuse), dan sistem retakan.
Sistem aliran air yang ada di danau Tendetung masuk melalui ketiga sistem
aliran tersebut. Dua sifat atau cara masuk air ke dalam sistem akuifer yakni
autogenic dan allogenic. Autogenik digunakan untuk menyebut imbuhan air tanah
yang masuk ke dalam sistem akuifer karst yang berasal dari kawasan karst itu
sendiri. Sedangkan Alogenik digunakan untuk menyebut imbuhan air tanah yang
masuk ke dalam sistem akuifer dari luar karst itu sendiri. Di danau Tendetung,
aliran autogenik sudah pasti masuk melalui celah atau lubang bawah tanah yang
ada di dasar danau sedangkan alogenik bersumber dari sungai permukaan yang
berada di bagian utara danau. Lubang atau celah dan juga goa-goa lorong bawah
tanah sebagai pintu masuk keluarnya keluarnya air danau ini sehingga
mengakibatkan terjadinya pasang surut. Oleh karena itu, hal tersebut sedikit
bisa terjelaskan melalui sistem aliran diffuse.
Seperti
diketahui bahwa sistem aliran diffuse memiliki infltrasi yang relative lambat disebabkan
oleh kecilnya kekar atau join yang harus dilewati air untuk keluar masuk ke
dalam lorong bawah tanah. Intensitas hujan yang terjadi selama beberapa bulan akan
disimpan terlebih dahulu dalam rongga-rongga bawah tanah dan akan dikeluarkan
pelan-pelan pula pada saat rongga-rongga tersebut sudah terisi penuh sehingga
cekungan akan terisi air.
Karst
dilihat berdasarkan ukuran dan polanya terbagi atas Karst Makro dan Karst Mikro
yang masing-masing mempunyai pola yang berbeda. Jika Danau Tendetung sudah
terbukti secara ilmiah melalui penelitian, maka besar kemungkinan Danau ini
termasuk dalam salah satu karst makro berupa “Polje”. Pada umumnya, polje
dikenal sebagai kawasan karst yang dikelilingi daerah perbukitan, lereng
terjal, dasar yang datar dan mempunyai sistem drainase bawah tanah yang dapat
kering sepanjang tahun serta dialiri pada saat tertentu dan bahkan tergenang
saat-saat tertentu. Biasanya luasnya beberapa kilometer dan tertutup oleh
endapan alluvium atau residu pelapukan.







Komentar
Posting Komentar