Puisi Untuk Kalumbatang




Kisah negeri tak bertanah
Untuk yang terlupakan
Oleh : Rifan T

Manja pelukan sang surya
Dekapi ramah senyum sang camar
Angkuh, ia bebaskan tarian tiap kepakan sayapnya   
Atas nama rasa serta lukisan jiwa

Berdiri tegak, kau di atas latar negeri kebanggaan mu
Negeri dimana layar-layar keangkuhan bui mengapung
Negeri dimana perahu-perahu adalah istana bagi mu
Di sanalah kau cipta bagian demi bagian kisah itu
Tentang angin yang menyurat riak-riak kecil 
Tentang tegarnya karang-karang
Tentang sandiwara ikan-ikan yang tiada henti
Dan bahkan tentang negeri yang katanya tak bertanah
Iya,,,,negeri tak bertanah
Itu yang dibisikkan jejak sejarah negeri kita,
Katanya, Negeri dimana matahari tiada pernah pungkiri janji pada air
Negeri yang mempertontonkan peristiwa apung, hanyut dan karam
Karam, iya kisah para penantang badai sejati karam dalam gelombang peradaban
Tanpa pantun, tanpa dongeng, tanpa legenda apalagi sejarah
Sedikit yang tersisa, lainnya terhapus atau bahkan hanyut terbawa arus samudra.


Padahal Kita pelaku sejarah,
Masih mengambang dalam ruang ilusi kita
Benteng-benteng di tepi nusa benggawi, gagah kita berdiri
Terkurung dalam kerangkeng martabat kejayaan
Terjebak dalam asa-asa keagungan hampa
Padang laya, tompotika, dan puncak peling,
Ketiganya menyaksikan armada-armada kecil dari ketinggian 
dengan tarian-tarian pedang yang teriring nyanyian duka
Kita besar di mata ketiganya, tapi tidak di mata pena
Tinta-tinta dan sentuhannya di atas kanvas lupa menulis nama kita di tepi kertas
Karena sejarah bukan milik kita
Sejarah milik para raja.

Indah kisah mu kawan
Aku tertarik dengan susunan sintaks-sintaksnya kawan
Tapi kini, masih terlisankah kisah itu pada pagi?
Adakah senja yang merindukan kisah itu?
Masih mungkinkah setiap mata  menatapnya?
Aku rasa tidak kawan, karena kisah itu telah mengendap
Di balik dongeng-dongeng para pecinta kekuasaan kawan
Maka izinkanlah aku sedikit demi sedikit menyusunnya kembali kawan!!!!

Kalumbatang,    November 2016

 

Komentar